yang tak terduga dan yang tak ingin terjadi

sudah hampir 3 bulan kedekatanku dengannya semakin intens. semua berjalan seakan mulus. semua terlihat wajar. tidak ada cobaan yang benar- benar menguji kita, atau tepatnya belum ada.

setiap hari kita bertemu, berbicara, bercanda, berbagi semua hal dan segala aktivitas lainnya. sehari tak bertemu rasanya seperti dirundung penyakit demam tinggi 7 hari 7 malam berturut-turut. benar- benar kita memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk mendekatkan diri, mengenal satu sama lain, dan tentu saja merajut romantisme bersama. namun kesemua hal yang layaknya membuatku bahagia, agaknya malah menimbulkan suatu ketakutan yang teramat akut.

kedekatanku dengannya sudah seperti lumut dan tebing, daun dan ranting. sungguh tak terpisahkan. saling mengisi, berbagi, bereaksi, dan terus tanpa mengenal henti.

tapi disitulah, di saat aku tengah merasakan damainya ketika bersama, tenangnya ketika berdua, muncul ketakutan awalku, ketakutan yang masih menghantuiku hingga kini,

yaitu kehilangannya...
kehilangannya dikala tunas- tunas harapan mulai tumbuh.
kehilangannya disaat hangatnya rasa merasuk.
kehilangannya ketika rindu dan sayang ini kian menjadi.


ditulis sekitar desember 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar